Karya perdana teater RUANG pada tahun 1994 adalah SANG PECINTA. Ini bersumber dari keprihatinan berteater anggota-anggotanya. Cerita ini hanyalah alat untuk membongkar diskriminasi dalam hukum, politik, rasialisme dan kecacatan yang lain. Dengan hanya dua pemain yang berperan sebagai SODOM dan GOMORAH, pertunjukannya sukses menghadirkan ’atmosfer’ diskriminasi. Gerak eksplorasi mereka dapat membawakan keterasingan sosial.
Pementasan perdana ini teater RUANG menemukan konsep ”ketelanjangan dalam teater”. Sebuah konsep yang diperdalam maknanya ketika Teater RUANG berlatih mandi bersama di permandian Pengging Boyolali. Di sana semua anggota membersihkan diri dan kemudian menemukan konsep penelanjangan diri.
Perenungan ini akhirnya dituangkan dalam intensitas simbolis teater RUANG untuk setiap pementasannya. Kejujuran dalam ketelanjangan pertunjukan dengan hanya mengenakan cawat bagi pemain laki-laki dan pakaian tayet ketat pada pemain wanitanya, sehingga seakakan-akan telanjang. Bukan berarti teater RUANG adalah kelompok teater yang semata-mata eksibisionis.
Prinsip utama pertunjukan bagi teater RUANG adalah kemurnian, keikhlasan dan kejujuran. Lebih dari itu kejujuran bukan sekedar telanjang yang ditujukan dengan pamer kelamin dalam pentas. Melainkan kejujuran pada diri sendiri sebagai upaya penelanjangan diri dalam setiap proses maupun pementasan, dan kejujuran menyuarakan realitas hidup dan kehidupan di sekitar.
Sanggar
Kegelisahan teater RUANG kian berkembang dan memunculkan kegelisahan baru tentang memperkenalkan dan mengembangkan konsep teaterpada masyarakat. Alasan tersebut diwujudkan dengan kenekatan membangun sebuah sanggar yang berada di tengah perkampungan penduduk. Hingga saat ini aktivitas teater RUANG berpusat pada sepetak tanah di tepi sungai atau pereng tanggul Dawung Wetan Surakarta. Teater RUANG menggunakan bantaran sungai itu kira-kira 400 m2. Secara geografi, teater RUANG menjadi memiliki privaci sebab jarak sanggar dengan lingkungan masyarakat dibatasi tanggul. Pada mulanya masyarakat umum sukar menerima keberadaan Teater RUANG karena kecemburuan dan kecurigaan sosial. Cemburu, kerna mereka tidak punya ruang yang luas tapi teater RUANG memiliki itu di sanggar. Mereka menginginkan hal yang sama dengan teater RUANG, yaitu membangun tempat di pinggir sungai, tapi oleh pemerintah tidak diperbolehkan. Sedangkan teater RUANG diperbolehkan kerna tempat itu dipergunkan juga untuk kegiatan sosial.
Setelah dua tahun teater RUANG merasa masyarakat mulai kelihatan dekat dab mengerti mengapa teater RUANG tinggal di situ. Dan sekarang teater RUANG tahu pasti apa yang terjadi dua tahun lalu. Mereka tidak menerima jika anak-anak mereka mendengar ’pisuhan' ketika teater RUANG latihan naskah lakon : Lurung Kala Bendu.
Dari point itulah, teater RUANG tahu bahwa teater Ruang kelihatan aneh bagi mereka, sebab orang tidak pernah menemui pertunjukan teater sebelumnya. Oleh sebab itulah teater RUANG memutuskan melakukan pentas rutin di sanggar.
Eksplorasi Estetik
Dalam perkembangannya teater RUANG yang hidup dalam keterbatasan memiliki kecenderungan untuk memanfaatkan apa yang ada dan menghasilkan satu bentuk karya yang sama sekali lain. Seperti halnya satu pemikiran pemberontakan terhadap generasi neon yang akhirnya menciptakan beberapa naskah yang dipentaskan dengan hanya menggunakan satu property berupa lampu senter. Lewat Joko Bibit Santoso yang dipercaya oleh teater RUANG sebagai sutradara dan penulis naskah tercipta beberapa pementasan yang hanya menggunakan satu-satunya property panggung. Mulai dari karya SANG PECINTA versi kedua, teater RUANG telah melakukan eksplorasi lampu senter dan disusul dengan karya NAPOL versi kedua pula.
Eksplorasi lampu senter terbaru diterapkan pada karya terbaru RUANG tahun 2003 bertajuk ”Z”. Lakon ini mendapat tanggapan yang baik ketika teater RUANG mementaskannya pada acara Festival Phisycal Theatre di Tokyo Jepang. Bertolak dari tubuh sebagai media ekspresi yang utama, ”Z” mengungkap persoalan-persoalan kehidupan melalui bahasa gerak. Konsep minimalis ini juga terletak pada penggunaan property bateray (lampu senter) sebagai materi artistik dan estestik pencahayaan, musik dan gerak keseluruhan. Pada lakon PLENCUNG tahun 2006 teater RUANG menemukan eksplorasi minimalis yang hanya menggunakan korek api dan cahaya api lampu blencong.
Beberapa bentuk kekaryaan Teater RUANG di atas adalah proses penjelajahan dalam bentuk eksplorasi estetik. Penjelajahan Teater RUANG pada bidang estetik atau keseniannnya.
Eksplorasi Sosial
Teater RUANG terus membangun niat yang diperlukan setiap harinya dalam proses berteater untuk mewujudkan kehidupan tanggul yang tidak hanya sekedar tanggul. Melainkan sebuah tanggul kebudayaan bagi masyarakat dan kejujuran berkesenian. Itikad ini adalah itikad dalam bentuk penjelajahan Teater RUANG secara sosial maupun Kultural
Teater RUANG selain melakukan ekplorasi estetik juga melakukan eksplorasi sosial maupun kultural. Eksplorasi estetik lebih bertumpu pada anggota yang lebih intens dan serius di bidang teater, dan biasanya pelaku seni ini berasal dari kalangan akademis atau sekolahan. Pada eksplorasi sosial lebih bertumpu pelaku seni dari kalangan masyarakat umum, bukan pelaku seni langsung. Inisiatif ini lebih membuka wacana kreatif teater RUANG ketika berhadapan dengan problematik teater secara langsung berkaitan dengan masyarakat umum. Bahkan muncul pemahaman baru bahwa pemain yang berasal dari masyarakat umum, dalam pikirannya tak dipenuhi oleh teori-teori drama atau kaidah-kaidah drama. Sebab kadangkala teori atau kaidah drama ini seringkali malah membelenggu seorang pemain dalam memerankan tokoh yang tengah diperankannya. Kemurnian pada pemain yang berasal dari masyarakat umum ini akan memberikan nuansa kejujuran yang tak dibuat-buat. Bahkan seorang pemain dari masyarakat umum ini telah membawa setting sosial secara psikologis. Hal ini memudahkan pementasan dalam melakukan komunikasi dengan publiknya, pun berkaitan dengan kenaturalan dalam bermain dramanya.
Pada proses lakon LURUNG KALA BENDU kali ini usaha eksplorasi sosial ini terasa kental sekali. Kebanyakan pemainnya berasal dari masyakarat umum yang berlainan latar belakang sosial. Ada penjual sate ayam (Eni Suheimi pemeran mbah Sumi), penjual sayur mayur (Pardi pemeran pak Slamet), penjaga malam dan tukang parkir (Bagio pemeran Ngabdhul), sopir (Marno pemeran Kampret), sopir becak dan buruh serabutan (Joko Bowo pemeran Santoso), penjual jagung dan sawut (Bambang pemeran Wakidin), ibu rumah tangga (Retno sebagai bu Sugi), dan mahasiswa (Dhian pemeran Darsi). Selain itu rata-rata usia pemainnya di atas 30 tahun ke atas. Eni Suheimi 30 tahun, Joko Bowo 37 tahun, Retno 42 tahun, Dhian 30 tahun, Marno 49 tahun, Pardi 55 tahun, Bagio 54 tahun, dan Bambang 57 tahun. Sebagian besar dari mereka sudah beranak bahkan sudah bercucu.
Ketika proses tengah berlangsung ternyata banyak sekali muncul problematik yang dihadapi oleh orang kampung seperti mereka yang memimilih untuk bermain drama. Problem itu muncul tidak hanya dari dalam rumah tangga mereka, melainkan juga dari tetangga dan masyarakat sekitar sanggar. Muncullah idiom-idiom cemohan seperti : Ngunthal teater (makan teater), artise lewat, latian kok saben dino (latian kok saban hari), latian kok ra apal-apal (latihan kok tidak hafal-hafal), dan sebagainya. Namun hal semacam itu tidak menyurutkan mereka untuk berlatih teater. Anehnya lagi mereka di dalam rumah tangga menjadi orang yang disegani dan sering memerintah, tapi ketika latihan mereka biasa menyapu lantai, mencuci piring dan gelas minuman, mengangkat meja kursi untuk berlatih dan sebagainya. Perbuatan semacam itu jelas tidak sering mereka lakukan pada aktivitas di tumah mereka.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar